Apa Saja 2 Jenis Aborsi? Kenali Perbedaan Aborsi Medis dan Aborsi Bedah

apa saja 2 jenis aborsi

Ketika mencari informasi tentang apa saja 2 jenis aborsi, banyak orang menemukan istilah yang berbeda-beda. Ada yang membahas aborsi berdasarkan penyebabnya, sementara sumber medis juga mengelompokkan aborsi berdasarkan metode yang digunakan untuk mengakhiri kehamilan.

Secara umum, untuk aborsi yang disengaja (induced abortion), terdapat dua pendekatan utama, yaitu aborsi medis menggunakan obat dan aborsi bedah atau prosedural. Keduanya memiliki cara kerja, proses, pertimbangan medis, serta kebutuhan pemantauan yang berbeda. WHO memasukkan metode medis dan prosedural sebagai dua pendekatan utama dalam pelayanan aborsi.

Istilah aborsi juga perlu dibedakan dari keguguran spontan, yaitu kehamilan yang berakhir tanpa tindakan yang disengaja. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa keguguran atau spontaneous abortion merupakan kondisi ketika kehamilan berhenti berkembang sebelum embrio atau janin mampu bertahan hidup.

Apa Saja 2 Jenis Aborsi?

Jika yang dimaksud adalah metode untuk mengakhiri kehamilan secara sengaja, dua jenis utama yang perlu diketahui adalah:

  1. Aborsi medis, yaitu menggunakan obat-obatan untuk mengakhiri kehamilan.
  2. Aborsi bedah atau prosedural, yaitu menggunakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan dari rahim.

Pilihan metode tidak seharusnya ditentukan hanya berdasarkan keinginan menggunakan obat atau tindakan. Usia kehamilan, kondisi kesehatan, kemungkinan kontraindikasi, ketersediaan layanan, serta ketentuan hukum dan pelayanan kesehatan setempat merupakan bagian dari pertimbangan. WHO menekankan bahwa metode yang digunakan harus sesuai dengan usia kehamilan dan diberikan atau didukung oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi yang sesuai.

1. Aborsi Medis

Aborsi medis adalah metode mengakhiri kehamilan dengan menggunakan obat-obatan yang bekerja pada proses kehamilan dan membantu pengeluaran jaringan kehamilan dari rahim.

WHO menjelaskan bahwa aborsi dapat dikelola dengan aman menggunakan obat atau prosedur bedah apabila metode yang digunakan sesuai dengan usia kehamilan dan dilakukan dengan dukungan tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan yang diperlukan.

Dalam praktik medis, obat yang digunakan dapat melibatkan mifepristone dan misoprostol, atau misoprostol dalam situasi tertentu. Pemilihan regimen bergantung pada usia kehamilan, kondisi klinis, ketersediaan obat, serta pedoman yang berlaku.

Bagaimana Aborsi Medis Bekerja?

Secara sederhana, obat bekerja dengan memengaruhi proses hormonal dan kontraksi rahim sehingga jaringan kehamilan dapat dikeluarkan.

Proses tersebut biasanya disertai perdarahan dan kram. Intensitas gejala dapat berbeda antara satu orang dan lainnya.

Karena respons tubuh tidak selalu sama, pemantauan dan informasi mengenai tanda-tanda komplikasi tetap penting. WHO memasukkan penilaian kondisi, konseling, penanganan nyeri, serta pengenalan komplikasi sebagai bagian dari pelayanan aborsi yang berkualitas.

Apakah Aborsi Medis Sama dengan Minum Obat Sembarangan?

Tidak.

Istilah obat penggugur kandungan yang sering digunakan di internet dapat menyesatkan apabila membuat seseorang menganggap semua obat dapat digunakan untuk mengakhiri kehamilan.

Obat yang digunakan dalam pelayanan medis memiliki indikasi, dosis, cara penggunaan, kontraindikasi, serta kondisi klinis yang perlu diperhatikan. Menggunakan obat yang tidak jelas kandungan atau sumbernya dapat meningkatkan risiko komplikasi.

WHO menekankan bahwa keselamatan aborsi berkaitan dengan penggunaan metode yang direkomendasikan, sesuai usia kehamilan, dan dilakukan atau didukung oleh orang yang memiliki keterampilan yang diperlukan.

2. Aborsi Bedah atau Prosedural

Jenis kedua adalah aborsi bedah, yang lebih tepat juga disebut sebagai aborsi prosedural.

Pada metode ini, dokter atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi menggunakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan dari rahim.

Salah satu metode yang digunakan pada kehamilan awal adalah vakum aspirasi. Dalam pedoman WHO edisi kedua, vakum aspirasi direkomendasikan untuk tindakan bedah pada usia kehamilan kurang dari 14 minggu. Untuk usia kehamilan tertentu yang lebih lanjut, metode yang digunakan dapat berbeda, termasuk dilatasi dan evakuasi (dilatation and evacuation atau D&E).

Apa Itu Vakum Aspirasi?

Vakum aspirasi adalah prosedur untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim menggunakan tekanan vakum melalui alat khusus.

Prosedur ini berbeda dari penggunaan obat karena pengeluaran jaringan dilakukan melalui tindakan medis.

Pemilihan prosedur bergantung pada usia kehamilan dan kondisi pasien. WHO merekomendasikan vakum aspirasi sebagai metode bedah pada kehamilan kurang dari 14 minggu dan merekomendasikan D&E pada usia kehamilan 14 minggu atau lebih, dengan fleksibilitas tertentu pada rentang usia kehamilan sekitar 12–16 minggu.

Perbedaan Aborsi Medis dan Aborsi Bedah

Meskipun keduanya bertujuan mengakhiri kehamilan, prosesnya berbeda.

AspekAborsi MedisAborsi Bedah/Prosedural
MetodeMenggunakan obatMenggunakan tindakan medis
Proses utamaObat memicu proses pengeluaran jaringan kehamilanJaringan kehamilan dikeluarkan melalui prosedur
ContohMifepristone dan misoprostol dalam regimen yang sesuaiVakum aspirasi atau D&E sesuai usia kehamilan
KesesuaianTergantung usia kehamilan dan kondisi medisTergantung usia kehamilan dan kondisi medis
PemantauanTetap diperlukan sesuai kondisiDilakukan selama dan setelah tindakan
Penentuan metodeBerdasarkan evaluasi medisBerdasarkan evaluasi medis

Tidak ada satu metode yang otomatis sesuai untuk semua kondisi. Tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan usia kehamilan, kondisi pasien, metode yang tersedia, serta faktor klinis lainnya sebelum menentukan pendekatan yang sesuai.

Apakah Keguguran Termasuk Dua Jenis Aborsi Tersebut?

Istilah aborsi dalam dunia kedokteran memiliki penggunaan yang lebih luas daripada penggunaan sehari-hari.

Induced abortion berarti kehamilan dihentikan secara sengaja menggunakan metode medis atau prosedural. Sementara itu, spontaneous abortion merupakan istilah medis untuk keguguran yang terjadi secara alami tanpa tindakan yang disengaja.

Karena itu, ketika seseorang bertanya “apa saja 2 jenis aborsi?”, perlu dilihat terlebih dahulu apakah yang dimaksud adalah:

  • dua jenis metode aborsi yang disengaja, atau
  • klasifikasi aborsi berdasarkan terjadinya kehamilan, seperti spontan dan induksi.

Untuk pembahasan metode, dua kelompok utamanya adalah medis dan prosedural.

Apa Perbedaan Aborsi Spontan dan Aborsi yang Disengaja?

Aborsi spontan terjadi tanpa tindakan yang bertujuan mengakhiri kehamilan. Istilah yang lebih umum digunakan adalah keguguran.

Kementerian Kesehatan menjelaskan beberapa bentuk keguguran berdasarkan kondisi klinisnya, seperti abortus insipiens, abortus inkompletus, abortus kompletus, missed abortion, dan keguguran berulang.

Sementara itu, aborsi yang disengaja dilakukan dengan tujuan mengakhiri kehamilan menggunakan metode medis atau prosedural.

Perbedaan ini penting karena penanganannya juga berbeda. Seseorang yang mengalami perdarahan atau nyeri saat hamil tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa dirinya mengalami keguguran tanpa pemeriksaan medis.

Baca Juga Artikel Kami:

  1. Obat Aborsi 2 Bulan
  2. Mifepristone: Fungsi, Cara Kerja, Risiko
  3. Misoprostol: Kegunaan, Cara Kerja, Efek Samping
  4. Obat Aborsi Aman atau Berbahaya?
  5. Obat Aborsi: Jenis, Cara Kerja, Efek Samping, dan Risikonya
  6. Dampak Obat Penggugur Kandungan bagi Ibu dan Janin
  7. Apakah Aborsi Itu Sakit?
  8. Obat Penggugur Kandungan 1 Bulan

Bagaimana Dokter Menentukan Metode yang Sesuai?

Penentuan metode tidak hanya berdasarkan usia kehamilan.

Dokter dapat mempertimbangkan beberapa hal, seperti:

  • usia kehamilan;
  • kondisi kesehatan pasien;
  • riwayat kesehatan;
  • kemungkinan kontraindikasi;
  • gejala yang sedang dialami;
  • kemungkinan kehamilan ektopik;
  • metode yang tersedia;
  • kebutuhan pemantauan setelah tindakan;
  • serta ketentuan hukum dan pelayanan kesehatan yang berlaku.

Dalam pelayanan yang berkualitas, penilaian kondisi dan usia kehamilan menjadi bagian penting sebelum menentukan pilihan penanganan. WHO juga menempatkan konseling, pengambilan keputusan berdasarkan informasi, serta pengenalan komplikasi sebagai bagian dari pelayanan aborsi.

Apakah Semua Aborsi Aman?

Keamanan sangat bergantung pada metode, usia kehamilan, kondisi pasien, kualitas obat atau alat, serta kompetensi orang yang memberikan pelayanan.

WHO menyatakan bahwa aborsi merupakan intervensi kesehatan yang sangat aman ketika dilakukan dengan metode yang direkomendasikan, sesuai usia kehamilan, dan oleh orang yang memiliki keterampilan yang diperlukan. Sebaliknya, aborsi yang tidak aman dapat menyebabkan komplikasi seperti perdarahan, infeksi, dan cedera pada saluran reproduksi atau organ internal.

Karena itu, membeli obat dari sumber yang tidak jelas atau melakukan tindakan tanpa informasi medis yang memadai dapat menimbulkan risiko yang sebenarnya dapat dicegah.

Apa Saja Tanda Bahaya Setelah Aborsi?

Setelah aborsi atau penanganan keguguran, beberapa keluhan dapat muncul sebagai bagian dari proses pemulihan. Namun, terdapat kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Segera mencari pertolongan medis apabila muncul:

  • perdarahan yang sangat banyak;
  • nyeri perut yang berat atau semakin memburuk;
  • demam;
  • lemas berat atau pingsan;
  • keluarnya cairan vagina yang berbau tidak biasa;
  • atau kondisi tubuh yang terasa semakin memburuk.

Komplikasi seperti perdarahan dan infeksi termasuk komplikasi yang dapat terjadi pada aborsi yang tidak aman.

Jika seseorang mengalami perdarahan atau nyeri saat hamil dan belum mengetahui penyebabnya, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan keguguran, kehamilan ektopik, atau masalah kehamilan lainnya.

Apakah Kuret Sama dengan Aborsi Bedah?

Tidak selalu.

Istilah kuret sering digunakan secara umum untuk menyebut tindakan pada rahim, tetapi prosedur yang dilakukan dapat berbeda tergantung kondisi pasien.

Dalam pedoman WHO terbaru, vakum aspirasi direkomendasikan sebagai metode bedah untuk aborsi pada usia kehamilan kurang dari 14 minggu. WHO justru merekomendasikan agar dilatasi dan kuretase tajam (sharp D&C) tidak digunakan sebagai tindakan rutin setelah vakum aspirasi untuk “menyelesaikan” aborsi.

Karena itu, istilah “kuret” sebaiknya tidak langsung dianggap sama dengan semua jenis tindakan pengeluaran jaringan dari rahim.

Apakah Usia Kehamilan Mempengaruhi Metode Aborsi?

Ya.

Usia kehamilan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan metode yang dapat digunakan.

WHO membedakan rekomendasi metode berdasarkan usia kehamilan. Untuk metode bedah, vakum aspirasi direkomendasikan pada usia kehamilan kurang dari 14 minggu, sedangkan D&E direkomendasikan pada usia 14 minggu atau lebih, dengan beberapa fleksibilitas pada rentang 12–16 minggu.

Untuk aborsi medis, regimen dan pendekatan juga dapat berbeda berdasarkan usia kehamilan serta kondisi klinis.

Artinya, informasi mengenai “obat” atau “tindakan” tidak sebaiknya dipisahkan dari usia kehamilan.

Ketentuan mengenai aborsi berbeda-beda antarnegara. Di Indonesia, pelayanan aborsi memiliki kerangka hukum dan ketentuan medis tertentu sehingga tidak dapat disamakan dengan aturan di negara lain.

Karena aturan dapat berubah, informasi mengenai aspek legal sebaiknya merujuk pada peraturan Indonesia yang berlaku dan sumber pemerintah atau Klinik Aborsi.

Untuk keputusan terkait pelayanan kesehatan, aspek medis dan aspek hukum sama-sama perlu diperhatikan.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter?

Konsultasi dengan dokter penting apabila seseorang:

  • mendapatkan hasil tes kehamilan positif dan membutuhkan informasi mengenai kondisi kehamilan;
  • mengalami perdarahan saat hamil;
  • mengalami nyeri perut;
  • tidak mengetahui usia kehamilan secara pasti;
  • memiliki riwayat penyakit tertentu;
  • sedang mempertimbangkan pilihan penanganan kehamilan;
  • atau mengalami keluhan setelah aborsi atau keguguran.

Pemeriksaan dapat membantu menentukan kondisi kehamilan dan apakah terdapat masalah yang membutuhkan penanganan segera.

Kesimpulan

Jadi, apa saja 2 jenis aborsi? Jika yang dimaksud adalah metode untuk mengakhiri kehamilan secara sengaja, dua kelompok utama adalah aborsi medis menggunakan obat dan aborsi bedah atau prosedural.

Aborsi medis menggunakan obat untuk membantu mengakhiri kehamilan dan mengeluarkan jaringan kehamilan, sedangkan metode bedah menggunakan tindakan medis seperti vakum aspirasi atau prosedur lain yang sesuai dengan usia kehamilan. WHO menekankan bahwa metode harus disesuaikan dengan usia kehamilan dan kondisi klinis serta diberikan dengan kompetensi yang sesuai.

Istilah aborsi juga perlu dibedakan dari keguguran spontan. Jika terjadi perdarahan, nyeri, atau gejala lain selama kehamilan, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.

FAQ

1. Apa saja 2 jenis aborsi?

Dua kelompok utama metode aborsi yang disengaja adalah aborsi medis dan aborsi bedah atau prosedural. Aborsi medis menggunakan obat, sedangkan aborsi prosedural menggunakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan.

2. Apa itu aborsi medis?

Aborsi medis adalah metode mengakhiri kehamilan menggunakan obat-obatan tertentu. Jenis obat dan regimen yang digunakan harus disesuaikan dengan usia kehamilan dan kondisi medis.

3. Apa itu aborsi bedah?

Aborsi bedah atau prosedural merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan kehamilan dari rahim. Salah satu metode yang digunakan pada kehamilan awal adalah vakum aspirasi.

4. Apakah aborsi sama dengan keguguran?

Tidak selalu. Dalam istilah medis, spontaneous abortion merupakan istilah untuk keguguran yang terjadi secara alami, sedangkan induced abortion merujuk pada penghentian kehamilan yang dilakukan secara sengaja.

5. Apakah semua metode aborsi bisa digunakan pada setiap usia kehamilan?

Tidak. Metode yang dapat digunakan bergantung pada usia kehamilan, kondisi medis, serta faktor lainnya. WHO memiliki rekomendasi yang berbeda untuk metode medis dan prosedural berdasarkan usia kehamilan.

6. Apakah vakum aspirasi termasuk aborsi bedah?

Ya. Vakum aspirasi merupakan salah satu metode aborsi prosedural atau bedah yang direkomendasikan WHO pada kehamilan kurang dari 14 minggu.

7. Apakah menggunakan obat aborsi tanpa pemeriksaan aman?

Keamanan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan nama obat. Kondisi kehamilan, usia kehamilan, kontraindikasi, kualitas obat, serta akses terhadap pertolongan medis jika terjadi komplikasi merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. WHO mengaitkan keamanan dengan penggunaan metode yang direkomendasikan, sesuai usia kehamilan, dan kompetensi pemberi pelayanan.

8. Kapan harus segera mencari pertolongan medis?

Pertolongan medis diperlukan segera apabila terjadi perdarahan sangat banyak, nyeri berat, demam, pingsan atau lemas berat, cairan vagina berbau tidak biasa, atau kondisi kesehatan semakin memburuk

Reviewed by

Tim Medis Klinik Aborsi Medical

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Article