Keguguran merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang cukup sering terjadi, terutama pada trimester pertama. Kondisi ini dapat menimbulkan banyak pertanyaan, terutama ketika kehamilan sebelumnya terlihat berjalan normal.
Pertanyaan seperti “Kenapa saya bisa keguguran?”, “Apakah terlalu lelah bisa menyebabkan keguguran?”, atau “Apakah keguguran terjadi karena aktivitas tertentu?” sangat umum muncul setelah kehilangan kehamilan.

Jawabannya tidak selalu sederhana. Pada banyak kasus, penyebab keguguran memang tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, penelitian dan pedoman obstetri menunjukkan bahwa kelainan kromosom pada embrio merupakan penyebab yang paling sering ditemukan pada keguguran dini. Sekitar 50% kasus keguguran dini berkaitan dengan kelainan kromosom.
Yang juga penting dipahami, keguguran hampir selalu bukan akibat kesalahan ibu. Aktivitas sehari-hari seperti bekerja, berolahraga, mengalami stres, bertengkar, atau berhubungan seksual tidak dianggap sebagai penyebab umum keguguran dini.
Lalu, faktor apa saja yang memang dapat meningkatkan risiko keguguran? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa yang Dimaksud dengan Keguguran?
Keguguran adalah berhentinya perkembangan kehamilan sebelum janin mampu bertahan hidup. Dalam praktik klinis, istilah dan batas usia kehamilan yang digunakan dapat berbeda bergantung pada pedoman dan konteks medis.
Untuk early pregnancy loss, ACOG menggunakan istilah kehilangan kehamilan intrauterin yang tidak berkembang sebelum 13 minggu kehamilan. Kondisi ini cukup umum dan terjadi pada sekitar 10% kehamilan yang telah diketahui secara klinis. Sekitar 80% kasus kehilangan kehamilan terjadi pada trimester pertama.
Gejala yang dapat muncul antara lain perdarahan dari vagina, kram atau nyeri perut bagian bawah, keluarnya jaringan dari vagina, atau keluarnya cairan dari vagina. Namun, perdarahan ringan pada awal kehamilan tidak selalu berarti keguguran.
Karena gejalanya dapat menyerupai kondisi kehamilan lainnya, diagnosis sebaiknya tidak hanya berdasarkan keluhan. Dokter dapat menggunakan pemeriksaan USG, pemeriksaan hormon hCG, dan pemeriksaan klinis untuk memastikan kondisi kehamilan.
Penyebab Keguguran yang Paling Sering Terjadi
1. Kelainan kromosom pada embrio
Jika pertanyaannya adalah apa penyebab keguguran yang paling sering terjadi, jawabannya terutama mengarah pada kelainan kromosom.
Kromosom membawa informasi genetik yang mengatur perkembangan tubuh. Ketika jumlah atau struktur kromosom pada embrio tidak normal, proses perkembangan dapat terganggu. Pada kondisi tertentu, embrio akhirnya berhenti berkembang dan kehamilan berakhir dengan keguguran.
ACOG menyebutkan bahwa sekitar setengah kasus kehilangan kehamilan dini disebabkan oleh kelainan kromosom pada janin atau embrio.
Kelainan tersebut sering terjadi secara acak ketika sel telur dan sperma membentuk embrio atau ketika sel embrio mulai membelah. Jadi, seorang ibu dapat mengalami keguguran meskipun tidak memiliki penyakit dan sudah menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Situasi ini juga menjelaskan mengapa dokter terkadang tidak dapat menemukan satu penyebab yang jelas setelah keguguran pertama.
2. Faktor usia ibu
Usia ibu merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko keguguran.
Seiring bertambahnya usia, kemungkinan terjadinya kelainan kromosom pada sel telur meningkat. Karena kelainan kromosom merupakan penyebab utama keguguran dini, risiko kehilangan kehamilan juga meningkat pada kelompok usia yang lebih tua.
ACOG mencatat bahwa risiko kehilangan kehamilan yang terdiagnosis secara klinis sekitar 9–17% pada usia 20–30 tahun. Angka tersebut meningkat sekitar 20% pada usia 35 tahun, 40% pada usia 40 tahun, dan dapat mencapai sekitar 80% pada usia 45 tahun.
Angka tersebut merupakan gambaran berdasarkan populasi. Artinya, usia tertentu tidak membuat seseorang pasti mengalami keguguran.
Banyak perempuan berusia lebih dari 35 tahun tetap dapat menjalani kehamilan sehat. Namun, dokter biasanya akan memperhatikan faktor risiko secara lebih menyeluruh, termasuk riwayat kehamilan dan kondisi kesehatan.
3. Riwayat keguguran sebelumnya
Pernah mengalami keguguran juga dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran berikutnya.
Namun, satu kali keguguran tidak berarti seseorang pasti mengalami keguguran berulang. Banyak perempuan yang mengalami satu kali kehilangan kehamilan kemudian berhasil menjalani kehamilan berikutnya dengan baik.
ACOG memasukkan riwayat kehilangan kehamilan sebelumnya sebagai salah satu faktor risiko penting.
Jika keguguran terjadi berulang, dokter dapat melakukan evaluasi lebih mendalam untuk mencari kemungkinan faktor genetik, kelainan rahim, gangguan hormon, atau kondisi tertentu yang berhubungan dengan pembekuan darah.
Penyakit yang Dapat Meningkatkan Risiko Keguguran
Tidak semua penyakit menyebabkan keguguran. Namun, beberapa kondisi medis dapat meningkatkan risikonya, terutama jika tidak terkontrol.
4. Diabetes yang tidak terkontrol
Diabetes yang terkontrol dengan baik tidak sama dengan diabetes yang kadar gula darahnya tidak terkendali.
Kadar gula darah yang tinggi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi. RCOG juga menjelaskan bahwa diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan kemungkinan keguguran, sedangkan diabetes yang terkontrol dengan baik tidak menunjukkan peningkatan risiko yang sama.
Karena itu, perempuan dengan diabetes yang sedang merencanakan kehamilan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengoptimalkan kondisi sebelum hamil.
5. Gangguan tiroid
Gangguan fungsi tiroid tertentu juga dapat berhubungan dengan peningkatan risiko keguguran.
Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya penyakit tiroid. Tingkat kontrol penyakit dan hasil pemeriksaan hormon ikut menentukan kondisi seseorang.
RCOG mencatat bahwa penyakit tiroid yang terkontrol dengan baik tidak menyebabkan keguguran, sedangkan kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) yang tinggi atau keberadaan antibodi tiroid tertentu dapat berkaitan dengan peningkatan risiko.
Karena itu, perempuan dengan riwayat gangguan tiroid sebaiknya tidak menghentikan atau mengubah obat sendiri ketika mengetahui dirinya hamil.
6. Sindrom ovarium polikistik atau PCOS
PCOS merupakan kondisi hormonal yang dapat berkaitan dengan gangguan ovulasi dan metabolisme.
RCOG mencatat bahwa perempuan dengan PCOS memiliki risiko keguguran yang lebih tinggi, meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami. Faktor seperti resistensi insulin dan perubahan kadar hormon dapat ikut berperan.
Meski demikian, memiliki PCOS tidak berarti seseorang pasti mengalami keguguran. Banyak perempuan dengan PCOS tetap dapat hamil dan melahirkan dengan sehat.
Kelainan Rahim dan Leher Rahim
7. Kelainan bentuk rahim
Kondisi anatomi rahim tertentu dapat meningkatkan kemungkinan keguguran, terutama pada kasus keguguran berulang.
Contohnya adalah septate uterus, yaitu adanya sekat jaringan yang membagi bagian dalam rahim. Ada pula bicornuate uterus, yaitu bentuk rahim yang memiliki lekukan dalam pada bagian atas sehingga tampak seperti dua ruang.
Tidak semua kelainan bentuk rahim menimbulkan masalah. Pengaruhnya bergantung pada jenis kelainan dan kondisi masing-masing pasien.
Pemeriksaan USG dapat membantu dokter menilai struktur rahim apabila terdapat indikasi medis.
8. Miom dan jaringan parut pada rahim
Miom merupakan pertumbuhan jaringan otot pada rahim. Pengaruh miom terhadap kehamilan sangat bergantung pada ukuran dan lokasinya.
Miom yang berukuran kecil dan tidak mengganggu rongga rahim belum tentu meningkatkan risiko keguguran. Sebaliknya, kondisi tertentu yang mengubah bentuk rongga rahim dapat membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Jaringan parut di dalam rahim juga dapat memengaruhi kondisi rongga rahim. Karena itu, apabila seseorang mengalami keguguran berulang, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan anatomi rahim.
9. Masalah pada serviks
Serviks atau leher rahim berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim. Dalam kondisi tertentu, serviks dapat membuka terlalu dini selama kehamilan dan berkontribusi terhadap kehilangan kehamilan pada trimester kedua.
Kondisi ini berbeda dengan sebagian besar keguguran trimester pertama yang lebih sering berkaitan dengan kelainan kromosom.
Jika seseorang mempunyai riwayat keguguran pada usia kehamilan yang lebih lanjut, dokter dapat mengevaluasi panjang dan kondisi serviks pada kehamilan berikutnya.
Gangguan Pembekuan Darah
10. Antiphospholipid syndrome atau APS
Antiphospholipid syndrome, disingkat APS, merupakan gangguan autoimun yang dapat menyebabkan darah lebih mudah membentuk bekuan.
Kondisi ini merupakan salah satu faktor medis yang diketahui berkaitan dengan keguguran berulang dan komplikasi kehamilan lainnya.
Namun, APS bukan penyebab utama setiap keguguran. Pemeriksaan biasanya dipertimbangkan berdasarkan riwayat keguguran dan kondisi klinis pasien.
ACOG juga menegaskan bahwa di antara berbagai kondisi pembekuan darah yang sering disebut sebagai penyebab keguguran, APS merupakan kondisi yang memiliki hubungan konsisten dengan kehilangan kehamilan dini.
Apakah semua gangguan pembekuan darah menyebabkan keguguran?
Tidak.
Ada berbagai jenis trombofilia, tetapi tidak semuanya terbukti memiliki hubungan yang sama dengan keguguran. Karena itu, pemeriksaan atau pemberian obat pengencer darah tidak seharusnya dilakukan secara sembarangan hanya karena seseorang pernah mengalami satu kali keguguran.
Keputusan pemeriksaan dan terapi perlu dibuat berdasarkan kondisi medis pasien.
Faktor Gaya Hidup yang Dapat Meningkatkan Risiko
11. Merokok
Merokok selama kehamilan dapat meningkatkan berbagai risiko kehamilan, termasuk risiko keguguran.
Paparan zat kimia dari rokok dapat memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan kehamilan. RCOG memasukkan kebiasaan merokok sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko keguguran.
Berhenti merokok merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membantu menciptakan kondisi kehamilan yang lebih sehat.
12. Konsumsi alkohol berlebihan
Konsumsi alkohol selama kehamilan dapat membahayakan perkembangan janin dan berhubungan dengan berbagai komplikasi kehamilan.
Risikonya dipengaruhi oleh jumlah dan pola konsumsi. Karena tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang dapat dianggap aman untuk perkembangan janin, pilihan paling aman selama kehamilan adalah menghindarinya.
13. Berat badan terlalu rendah atau terlalu tinggi
Berat badan juga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
RCOG mencatat bahwa berat badan yang terlalu rendah maupun overweight dapat meningkatkan risiko keguguran.
Meski demikian, berat badan bukan penyebab tunggal. Dokter akan melihat indeks massa tubuh, kondisi metabolik, riwayat kesehatan, serta faktor lain sebelum menentukan apakah berat badan berperan terhadap risiko kehamilan.
Apakah Stres Menyebabkan Keguguran?
Ini termasuk pertanyaan yang paling sering muncul setelah keguguran.
Jawabannya: stres sehari-hari bukan penyebab umum keguguran dini.
ACOG menyatakan bahwa bekerja, berolahraga, mengalami stres, bertengkar, dan berhubungan seksual tidak menyebabkan keguguran pada umumnya.
Hal tersebut penting karena perempuan yang mengalami keguguran sering merasa bersalah. Mereka mungkin mengingat kembali aktivitas beberapa hari sebelumnya dan menganggap aktivitas tersebut sebagai penyebab kehilangan kehamilan.
Padahal, pada banyak kasus, keguguran sudah berkaitan dengan masalah perkembangan embrio yang terjadi sebelum gejala muncul.
Apakah Kelelahan atau Terlalu Banyak Bekerja Bisa Menyebabkan Keguguran?
Kelelahan biasa akibat bekerja atau aktivitas sehari-hari bukan penyebab utama keguguran.
Kehamilan memang dapat membuat tubuh lebih cepat lelah. Selama tidak terdapat kondisi medis tertentu, aktivitas sehari-hari yang normal umumnya tidak menyebabkan keguguran.
Jika dokter memberikan pembatasan aktivitas karena kondisi kehamilan tertentu, anjuran tersebut tentu perlu diikuti. Pembatasan tersebut dibuat berdasarkan kondisi klinis pasien, bukan karena semua aktivitas fisik dianggap berbahaya.
Apakah Hubungan Seksual Bisa Menyebabkan Keguguran?
Pada kehamilan normal, hubungan seksual tidak dianggap sebagai penyebab keguguran dini. ACOG secara khusus menyebutkan bahwa hubungan seksual bukan penyebab keguguran.
Namun, ada kondisi tertentu ketika dokter mungkin meminta pasien menghindari hubungan seksual untuk sementara. Keputusan tersebut bergantung pada kondisi kehamilan, perdarahan, masalah plasenta, atau faktor medis lainnya.
Jadi, hubungan seksual dan keguguran tidak dapat disimpulkan memiliki hubungan sebab-akibat pada setiap kasus.
Apakah Jatuh atau Terbentur Bisa Menyebabkan Keguguran?
Cedera berat selama kehamilan tentu perlu mendapatkan perhatian medis.
Namun, jatuh ringan, ketakutan, atau kejadian traumatis kecil tidak otomatis menjadi penyebab keguguran. ACOG menjelaskan bahwa dalam kebanyakan kasus, jatuh, benturan ringan, atau stres yang terjadi menjelang keguguran hanya bertepatan waktunya dan bukan penyebab sebenarnya.
Jika setelah benturan muncul perdarahan, nyeri perut yang berat, pusing, keluar cairan, atau keluhan lain, pemeriksaan medis diperlukan.
Mengapa Penyebab Keguguran Sering Tidak Diketahui?
Tidak semua keguguran dapat dijelaskan dengan pemeriksaan sederhana.
Pada keguguran pertama, dokter biasanya lebih fokus memastikan diagnosis dan menilai kondisi pasien. Pemeriksaan khusus untuk mencari penyebab tidak selalu diperlukan setelah satu kali kehilangan kehamilan. ACOG menyebutkan bahwa pemeriksaan lanjutan umumnya tidak dilakukan setelah satu kali kehilangan kehamilan dini tanpa indikasi khusus.
Pada sebagian kasus, pemeriksaan jaringan kehamilan atau pemeriksaan genetik dapat memberikan informasi lebih lanjut. Namun, pemeriksaan tersebut tidak selalu diperlukan pada setiap pasien.
Kondisi menjadi berbeda jika keguguran terjadi berulang. RCOG menggunakan istilah recurrent miscarriage untuk tiga atau lebih keguguran awal dan menyarankan evaluasi terhadap kemungkinan penyebab yang dapat ditangani.
Keguguran Berulang: Apa yang Perlu Dicari?
Keguguran berulang dapat memiliki beberapa kemungkinan faktor.
Dokter dapat mengevaluasi:
- kelainan kromosom;
- bentuk dan struktur rahim;
- kondisi APS;
- fungsi tiroid;
- diabetes;
- gangguan hormonal tertentu;
- riwayat medis dan reproduksi;
- faktor usia;
- serta faktor lain berdasarkan kondisi pasien.
Pada sebagian pasangan, pemeriksaan dapat menemukan kelainan kromosom pada salah satu orang tua. Kondisi tersebut tidak selalu membuat orang tua mengalami masalah kesehatan, tetapi susunan kromosom tertentu dapat meningkatkan kemungkinan embrio menerima materi genetik yang tidak seimbang.
Yang menarik, sebagian besar kasus keguguran berulang tetap tidak memiliki satu penyebab yang jelas. Meski begitu, peluang kehamilan berikutnya tetap dapat baik dan pasien dapat memperoleh dukungan serta pemantauan yang lebih terarah.
Baca Juga: Vakum Aspirasi
Bagaimana Dokter Menentukan Penyebab Keguguran?
Tidak ada satu pemeriksaan yang dapat menemukan semua penyebab keguguran.
Dokter biasanya memulai dari riwayat kesehatan dan riwayat kehamilan. Informasi mengenai usia kehamilan ketika keguguran terjadi, jumlah keguguran, penyakit yang dimiliki, obat yang digunakan, serta hasil pemeriksaan sebelumnya dapat membantu menentukan pemeriksaan berikutnya.
Pemeriksaan USG dapat digunakan untuk melihat kondisi rahim dan kehamilan. Pemeriksaan darah dapat dilakukan bila terdapat kecurigaan terhadap gangguan tertentu, misalnya masalah tiroid, diabetes, atau APS.
Pada keguguran berulang, evaluasi genetik dapat dipertimbangkan pada kondisi yang sesuai.
Pendekatan seperti ini lebih tepat daripada melakukan semua jenis pemeriksaan sekaligus tanpa indikasi.
Apakah Keguguran Bisa Dicegah?
Tidak semua keguguran dapat dicegah.
Jika penyebabnya adalah kelainan kromosom yang terjadi secara acak pada embrio, tidak ada tindakan sederhana yang dapat menjamin keguguran tidak terjadi.
Meski begitu, beberapa langkah tetap penting untuk menjaga kesehatan sebelum dan selama kehamilan. Pemeriksaan kesehatan, mengendalikan penyakit kronis, menghindari rokok dan alkohol, menjaga berat badan dalam rentang sehat, serta melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai anjuran dapat membantu mengurangi faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
Yang tidak kalah penting, jangan menggunakan obat atau suplemen tertentu untuk “mencegah keguguran” tanpa rekomendasi dokter. Pengobatan harus diberikan berdasarkan penyebab atau indikasi yang jelas.
Kapan Harus Segera Memeriksakan Diri?
Perdarahan saat hamil tidak selalu berarti keguguran, tetapi tetap perlu diperhatikan.
Segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan jika mengalami perdarahan selama kehamilan, terutama jika disertai nyeri perut, kram yang semakin kuat, keluar jaringan, pusing, lemas, atau keluarnya cairan dari vagina. ACOG menyarankan perempuan dengan gejala yang mengarah pada keguguran untuk menghubungi dokter kandungan.
Pemeriksaan juga penting untuk membedakan keguguran dari kondisi lain yang dapat menyebabkan perdarahan pada awal kehamilan, termasuk kehamilan ektopik.
Jangan mencoba memastikan keguguran hanya berdasarkan banyaknya darah atau adanya nyeri. Diagnosis membutuhkan penilaian medis.
Apakah Setelah Keguguran Masih Bisa Hamil Lagi?
Dalam banyak kasus, jawabannya adalah ya.
Satu kali keguguran tidak berarti seseorang kehilangan kemampuan untuk hamil. Banyak perempuan yang mengalami keguguran kemudian memperoleh kehamilan yang sehat.
Jika keguguran terjadi berulang, dokter dapat membantu mencari faktor yang mungkin berperan. Bila ditemukan kondisi tertentu, pengobatan atau pemantauan dapat disesuaikan dengan penyebabnya.
Bahkan ketika penyebab keguguran berulang tidak ditemukan, RCOG menyebutkan bahwa sebagian besar perempuan tetap memiliki peluang kehamilan berhasil pada masa berikutnya.
Baca Juga: Klinik Aborsi Jakarta
Kesimpulan
Penyebab keguguran yang paling sering terjadi adalah kelainan kromosom pada embrio, terutama pada keguguran yang berlangsung pada trimester pertama. Sekitar setengah kasus kehilangan kehamilan dini berkaitan dengan kelainan kromosom, dan banyak di antaranya terjadi secara acak.
Selain faktor kromosom, risiko keguguran dapat dipengaruhi oleh usia ibu, riwayat keguguran sebelumnya, diabetes yang tidak terkontrol, gangguan tiroid tertentu, PCOS, kelainan bentuk rahim, masalah serviks, APS, merokok, konsumsi alkohol, serta kondisi berat badan tertentu.
Sebaliknya, aktivitas seperti bekerja, olahraga, stres sehari-hari, pertengkaran, dan hubungan seksual bukan penyebab umum keguguran dini.
Jika Anda mengalami keguguran, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Penyebabnya sering kali tidak berkaitan dengan sesuatu yang Anda lakukan. Apabila keguguran terjadi berulang atau terdapat kondisi medis tertentu, pemeriksaan lebih lanjut bersama dokter kandungan dapat membantu mencari faktor yang mungkin berperan.
FAQ
Apa penyebab keguguran yang paling sering terjadi?
Penyebab yang paling sering ditemukan pada keguguran dini adalah kelainan kromosom pada embrio. Sekitar 50% kasus kehilangan kehamilan dini berkaitan dengan kelainan kromosom.
Apakah stres bisa menyebabkan keguguran?
Stres sehari-hari bukan penyebab umum keguguran. ACOG menyatakan bahwa stres, bekerja, berolahraga, bertengkar, dan hubungan seksual tidak menyebabkan keguguran dini pada umumnya.
Apakah terlalu banyak bekerja dapat menyebabkan keguguran?
Aktivitas bekerja sehari-hari tidak dianggap sebagai penyebab umum keguguran. Namun, perempuan dengan kondisi kehamilan tertentu dapat memperoleh anjuran pembatasan aktivitas dari dokter.
Apakah berhubungan seksual dapat menyebabkan keguguran?
Pada kehamilan normal, hubungan seksual tidak dianggap sebagai penyebab keguguran dini. Pembatasan hubungan seksual hanya diperlukan pada kondisi tertentu berdasarkan penilaian dokter.
Apakah usia ibu meningkatkan risiko keguguran?
Ya. Risiko keguguran meningkat seiring bertambahnya usia, terutama karena kemungkinan kelainan kromosom pada embrio juga meningkat.
Apakah satu kali keguguran berarti sulit hamil lagi?
Tidak. Banyak perempuan yang mengalami satu kali keguguran kemudian berhasil menjalani kehamilan sehat.
Apa penyebab keguguran berulang?
Keguguran berulang dapat berkaitan dengan faktor kromosom, kelainan bentuk rahim, APS, gangguan hormon tertentu, diabetes yang tidak terkontrol, usia, dan beberapa faktor lainnya. Namun, banyak kasus tetap tidak memiliki penyebab yang dapat ditemukan.
Kapan keguguran perlu diperiksa lebih lanjut?
Evaluasi lebih lanjut terutama dipertimbangkan ketika keguguran terjadi berulang atau terdapat riwayat medis yang mengarah pada penyebab tertentu. Pemeriksaan dapat mencakup evaluasi rahim, hormon, kondisi pembekuan darah tertentu, dan faktor genetik sesuai indikasi.
Apakah keguguran bisa dicegah?
Tidak semua keguguran dapat dicegah, terutama jika penyebabnya adalah kelainan kromosom yang terjadi secara acak. Namun, mengendalikan penyakit, tidak merokok, menghindari alkohol, menjaga kesehatan sebelum hamil, dan melakukan pemeriksaan kehamilan dapat membantu mengurangi faktor risiko yang dapat dimodifikasi.









